”Perkebunan” = ”Hutan” ? Ah.. Yang benar saja..


Apakah kebijakan pemerintah memang begitu sulit dimengerti? Atau kita sebagai masyarakat awam terlalu ”bodoh” untuk diberi pengertian oleh Pemerintah? Entahlah, yang jelas coba kita simak lagi upaya pemerintah untuk membuat peraturan yang memasukkan perkebunan sawit ke dalam kategori hutan.
Apakah memang sudah ”pas” jika sebuah perkebunan sawit yang nyata-nyata lahannya adalah bekas hutan yang dibabat habis bisa dikategorikan sebagai hutan? Apakah itu cuma sekedar cari-cari alasan saja agar proses perluasan areal sawit bisa dengan mulus melaju, meski dengan alasan yang sangat logis sekalipun yaitu untuk menghasilkan CPO sebagai bahan dasar biofuel yang saat ini sedang laku-lakunya dan sangat dibutuhkan di pasar internasional. Dan ujung-ujungnya pasti alasan untuk meningkatkan ekonomi.

Tentu saja lembaga-lembaga yang sangat perduli lingkungan amat gerah mendengarnya. Hari Sabtu lalu [13/03] Greenpeace seperti diberitakan Berling menggelar aksi membentangkan banner raksasa bertuliskan ”PLANTATIONS ARE NOT FORESTS” di atas kantor Kementerian Kehutanan. Joko Arif, sang juru kampanye Greenpeace Asia Tenggara menegaskan,”Menteri Zulkifli Hasan harus menggagalkan rencana itu dan lebih fokus pada upaya penyelamatan hutan yang tersisa.” Ditambahkan pula bahwa rencana tersebut sangat kontradiktif dengan pernyataan Presiden SBY untuk menurunkan emisi akibat pemanasan global. Dan penyumbang terbesar pemanasan global adalah habisnya hutan dan lahan gambut yang dijadikan perkebunan sawit. Selain itu dana yang dijanjikan oleh dunia internasional untuk memperbaiki kerusakan hutan di Indonesia bisa saja dibatalkan jika rencana itu digolkan. ”Dan jikapun turun, tak seharusnya dana itu malah digunakan untuk mengubah hutan alam menjadi perkebunan sawit,” papar Joko lagi.

Kembali lagi pada persoalan awal, kita masyarakat awam apakah juga akan diam-diam saja dibohongi dengan istilah ”Perkebunan sawit ” adalah ”hutan” dengan bentuk alasan apapun. Ck ck ck.. masyarakat kita sudah semakin pintar saat ini, jadi istilah apapun yang digunakan untuk menyamarkan penafsiran, siap-siap saja mendapat kritik dan kecaman, jika memang dianggap akan mengancam kelanjutan kehidupan.

2 Komentar (+add yours?)

  1. h0404055
    Apr 04, 2010 @ 21:27:43

    makasih informasinya
    silahkan kunjungi BLOG kami http://h0404055.wordpress.com
    terdapat artikel lain yang bermanfaat, dan kalau berkenan tolong dikasi komentar. Terima kasih.

    Balas

  2. angelie
    Des 27, 2010 @ 06:41:12

    Kenapa ya greenpeace malah mengkritisi hal seperti ini di Indonesia tapi tidak di negara-negara barat? bukannya disana lebih gila2an lagi membuka lahan? lebih gila2an lagi dalam memproduksi polusi dan GHG? areal hutan tidak boleh dibuka dan dijadikan areal sawit, tapi kondisi sebenarnya, banyak areal yang dibilang hutan sudah tidak hutan lagi karena banyaknya pembalakan liar. Bagaimana nasib lahan yang sudah terbuka seperti itu?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: